Makin "Tega" - Makin Sayang, Repot Sekarang - Santai Kemudian



بسم الله الرحمن الرحيم

“Dek, bangun, nanti kamu terlambat lagi."

“Kak, tugas matematika sudah selesai?” 

“Ayo, jangan lupa taruh baju kotor di tempatnya!”

Pernah merasa lelah karena harus terus-menerus menjadi ‘alarm’ berjalan untuk ananda? Bagi orang tua di jenjang TK hingga SD kelas rendah 1-2-3 termasuk orang tua dari para Ananda Berkebutuhan Khusus (ABK) di Flexischool PBD, kerepotan ini adalah makanan sehari-hari karena keterlibatan orangtua masih sangat tinggi, mulai dari melatih rutinitas pagi hingga memastikan tugas-tugas rumah tuntas. Rasanya setiap detail aktivitas dan tugas harian masih harus kita dampingi, kita arahkan, bahkan terkadang kita yang sibuk sendiri.

Mungkin sering kali muncul pertanyaan di benak kita: “Sampai kapan harus se-repot ini?”

Kabar baiknya, penelitian pendidikan menunjukkan bahwa kerepotan kita hari ini adalah sebuah investasi besar. Jika kita konsisten melatih kemandirian ananda sekarang, kita akan “panen santai” saat mereka menginjak jenjang SMP-SMA. Bahkan sejak kelas 4-6 SD pun, beban kita biasanya sudah mulai berkurang jauh karena mereka telah tumbuh menjadi pembelajar mandiri.

Memahami Rahasia Kemandirian: Siklus Zimmerman

Mengapa melatih kemandirian itu terasa repot? Karena kita sedang membantu ananda membangun "sirkuit" di otak mereka untuk bisa mengatur diri sendiri. Menurut ahli pendidikan Barry Zimmerman dalam jurnalnya "Becoming a Self-Regulated Learner: AnOverview, Theory Into Practice", belajar mengatur diri sendiri atau mandiri (Self-Regulated Learning) terdiri dari tiga fase yang berputar seperti siklus:

  1. Fase Pemikiran Awal (Forethought Phase): Di sinilah ananda belajar merencanakan. Sebelum mulai, mereka harus tahu apa targetnya dan bagaimana caranya. Di jenjang TK-SD, kitalah yang membantu mereka menentukan target harian. 

  2. Fase Pelaksanaan (Performance Phase): Fase saat ananda benar-benar bekerja. Di sini mereka butuh fokus dan strategi. Salah satu tekniknya adalah Pencitraan Mental (Imagery), yaitu membayangkan langkah-langkah tugas sebelum dikerjakan agar tidak bingung di tengah jalan.

  3. Fase Refleksi Diri (Self-Reflection Phase): Setelah selesai, ananda belajar menilai hasilnya sendiri. "Kenapa tadi pengerjaannya lama?" atau "Wah, ternyata aku bisa kalau fokus!" Evaluasi inilah yang membuat mereka lebih hebat di tugas berikutnya.

Sabar, Kita Sedang Membangun "Perancah"

Saat membangun gedung, kita butuh banyak scaffolding atau perancah besi untuk menyangga beton yang belum kering. Perancah itu memang terlihat memenuhi bangunan dan merepotkan. Namun, saat betonnya sudah kuat dan kering, perancah itu akan dilepas satu per satu.


Begitu pula dengan kita. Keterlibatan kita yang sangat banyak di TK hingga kelas 1-3 SD adalah perancah tersebut. Kita sedang menjaga agar "beton" kemandirian ananda terbentuk dengan sempurna. Hal ini juga berlaku bagi ananda hebat kita yang berkebutuhan khusus (ABK) di Flexischool PBD. Perjalanan mereka mungkin membutuhkan perancah yang lebih lama dan penyangga yang lebih kuat, namun setiap kemajuan kecil yang mereka capai adalah fondasi kemandirian yang sedang mengeras dengan indahnya.

Jika kita membiarkan mereka belajar mengelola tugasnya sekarang—meski sering gagal dan membuat kita harus ekstra sabar—kita sedang mempersiapkan mereka untuk berdiri tegak di masa depan tanpa perlu lagi kita sangga.

Hati-hati Over-Parenting

Sebaliknya, kita perlu waspada jika kita tidak tega melihat mereka kesulitan dan memilih untuk terus menjadi "penyelamat" dengan mengambil alih (tackling over) tugas-tugas mereka, karena sebenarnya itu berarti kita sedang merobohkan bangunan kemandirian itu sebelum ia sempat berdiri.

Ananda yang terus-menerus disuapi solusinya akan tumbuh dengan mentalitas "selalu ada yang membereskan". Risikonya, ketika mereka masuk ke jenjang SMP, SMA, hingga dunia perkuliahan nanti, mereka akan rentan mengalami burnout, kecemasan tinggi saat menghadapi hambatan, dan ketergantungan kronis pada bantuan orang lain. Mereka menjadi pintar secara akademis, namun rapuh dalam navigasi kehidupan.

Bahayanya lagi, terkadang demi mengejar angka di atas kertas atau sekadar "memudahkan" jalan ananda, ada godaan bagi orang tua maupun sekolah untuk melakukan manipulasi. Membocorkan soal ujian agar nilai terlihat sempurna, atau memberi nilai tinggi yang tidak sesuai dengan kompetensi asli ananda, adalah bentuk pengkhianatan terhadap proses pendidikan itu sendiri.

Ketika kita memanipulasi kemudahan ini, kita sebenarnya sedang mengirimkan pesan tersirat kepada ananda bahwa: "Hasil akhir lebih penting daripada kejujuran" dan "Kamu tidak cukup mampu untuk berhasil dengan usahamu sendiri."

Ananda mungkin panen nilai A di rapor, atau lulus dengan predikat terbaik, namun di dalamnya mereka keropos. Mereka akan kehilangan rasa bangga atas pencapaian asli dan tumbuh menjadi pribadi yang menghalalkan segala cara saat menghadapi tekanan di masa depan. Ingatlah, nilai yang dimanipulasi adalah "bom waktu" yang akan meledak saat mereka harus menghadapi dunia nyata yang tidak bisa lagi kita manipulasi. 

Jadi, mari kita peluk rasa repot ini. Biarkan tangan kita sedikit kotor dan waktu kita tersita lebih banyak saat ini. Karena sesungguhnya, lebih baik kita capek mendampingi mereka belajar mandiri sekarang, daripada lelah menjadi penopang selamanya karena mereka tak pernah belajar cara berdiri sendiri.

Sampai jumpa di masa panen nanti, di mana kita bisa duduk santai sambil melihat ananda terbang tinggi dengan sayap mandirinya sendiri sebagai pembelajar mandiri!

Baarakallahu fiikum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Minat Membaca Kalangan Mahasiswa Rendah?

Assesment Psikologis - Pemetaan Profil Calon Ananda Didik PBD

Flexi School: Jembatan Antara Sekolah Formal dengan Homeschooling