Ananda Ashghar, Dari Aduk Semen ke AutoCAD
بسم الله الر حمن الر خيم
Bagi anak laki-laki kelas 7, belajar Matematika dan Sains di balik meja mungkin terasa biasa. Namun, di Flexischool PBD, kami percaya bahwa kecerdasan intelektual harus beradu dengan ketangguhan fisik.
Ini sedikit cerita magang Abang Ashghar di proyek pembangunan rumah kost, yang dimentori langsung oleh mamanya (seorang praktisi Teknik Sipil).
1. Ground Zero: Mengapa Harus Mengaduk Semen?
Meski memiliki bakat menonjol di bidang sains, matematika, dan English, abang Ashghar tidak melulu diajak duduk di depan kertas ataupun komputer. Ia memulai dari "nol":
Mengayak pasir dan mengaduk semen.
Belajar teknik plester dinding yang presisi.
Tujuannya? Membangun endurance (daya tahan). Kami ingin ia merasakan beratnya material sebelum ia menggambar strukturnya. Seorang engineer masa depan harus tahu rasanya keringat di lapangan agar tidak menjadi pemikir yang manja. Mengutip arahan sang Mama, setiap pengalaman adalah pembelajaran yang nantinya akan mendukung seorang engineer dalam membuat keputusan dan menyelesaikan beragam masalah di lapangan.
2. High-Tech Skill: Dari Semen ke AutoCAD
Setelah fisik ditempa, barulah logika teknik masuk. Di bawah mentoring sang Mama, abang Ashghar mulai diperkenalkan pada dunia profesional:
Belajar AutoCAD: Menerjemahkan garis dan angka menjadi rancangan bangunan.
Digital Content: Membuat video motivasi digital sebagai refleksi harian dari tugas magangnya.
3. Fisik yang Tangguh, Karakter yang Kuat
Tidak hanya sesaat di magang proyek pembangunan, ketangguhan ini sudah dipupuk dari keseharian. Abang Ashghar dibiasakan mandiri dengan bersepeda menuju basecamp Flexischool PBD, klub tenis, dll. Konsistensi fisik ini menjadi modal utama saat ia harus menghadapi tantangan teknis yang rumit di lapangan maupun di depan layar.
4. Inspirasi dari Surah Al-Hadid: 25
Dalam tugas video motivasinya, abang Ashghar memilih ayat yang sangat bermakna: QS. Al-Hadid: 25.
"...Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia..."
Bagi kami, ini bukan sekadar tugas konten religius, melainkan cara ia memaknai bahwa ilmu teknik adalah alat dari Allah yang hendaknya dipakai untuk memberikan manfaat luas, sekaligus simbol kekuatan karakter seorang laki-laki.
Magang ini bukan sekadar soal skill pertukangan, tapi soal menyelaraskan Tangan (fisik), Otak (sains), dan Hati (iman). Karena laki-laki tangguh tidak hanya lahir dari buku, melainkan dari pasir dan semen yang ia aduk sendiri, serta kerendahan hatinya untuk tetap mengakui kebesaran Sang Pencipta, Allah azza wa jalla lewat ayat-ayat kauniyah-Nya.
Bagaimana dengan putra Ayah dan Bunda? Apakah sudah mulai merencanakan kegiatan magang alias belajar di dunia nyata? Sharing, yuk!
Baarakallahu fiikum.


Komentar
Posting Komentar